-->

Belasan (Karya: Ara)

Tidak ada komentar

Belasan

Muda-mudi menginjak putih abu-abu memulai lembar baru menelaah setiap sudut rasa. Tiba pada sebuah waktu saling bersua. Dua manusia yang dipertemukan dalam sebuah kebetulan yang seperti sudah diatur sebelumnya. Tanpa sengaja bertegur sapa dan mulai mencoba berkawan mencari kesamaan meski banyak perbedaan. Sampai pada titik saling berbagi tawa dan cerita tanpa melihat segala perbedaan. Sebuah persahabatan yang timbul karena ketidaksengajaan, tanpa terasa terjalin seperti keluarga. Namun saat sudah terbiasa dengan satu sama lain, entah mengapa si Tuan mulai menunjukan perubahan. Rasa mulai hadir pada waktu yang belum tepat. Si Puan tau, namun di satu sisi dia masih suka bermain-main, tak mau menoreh luka yang pastinya akan berbekas di usia yang masih belia. Si puan lebih memilih menjauh dan mengabaikan si Tuan dengan rasanya. Lebih baik menyudahinya dengan cepatkan? Daripada menundanya dan menimbulkan lebih banyak luka, bukan? Namun siapa sangka Tuan itu tak mudah menyerah dan tetap mencoba dengan segala kesabarannya. Tiap kali diyakinkan untuk berhenti dia tetap bersikeras melanjutkan rasanya dan dengan lantang berkata, "Kenapa tidak dicoba dulu, aku tidak seperti yang kau pikirkan." Oh ayolah tuan aku tidak ingin menyakitimu. Akan ada saatnya kita bersama tapi tidak untuk sekarang. Terlalu dini memikirkan hal yang begitu serius. Usia kita masih belia aku tidak ingin kehilanganmu begitu saja. Emosi kita masih belum terkendali. Aku tidak mau asing setelah itu semua usai. Mau kau yakinkan seperti apapun aku tetap belum siap. Bukannya belum siap dengan sebuah hubungan, tapi aku belum siap dengan asingnya dua insan setelah ada masalah dalam hubungan.

Tanpa terasa 2 taun sudah berlalu dan selama itu kau tidak pernah menyerah. Aku tau kesungguhanmu, aku tau rasamu, namun kita berdua memiliki mimpi yang masih harus diperjuangkan. Dan ini masih belum saatnya. Selama itu aku jarang menghubungimu, bukan karena tak peduli tuan, tanpa kau tau aku memiliki banyak informasi tentangmu. Lucunya aku masih sering marah jika kau melakukan sesuatu yang tidak baik. Aku hanya menghubungimu untuk mengomel seperti ibu yang menghawatirkan anaknya. Aku tau tuan itu waktumu untuk mencoba banyak hal baru, hanya saja aku masih terlalu takut membiarkanmu terbawa arus. Mungkin memang itu bukan hal yang wajar dilakukan bagi selayaknya kawan, harusnya kau tau maksut tersirat di dalamnya. Entah buta karena terlalu lama diabaikan atau memang hanya mencari perhatian, tapi percayalah itu selalu sukses membuatku sulit tidur karena mengkhawatirkanmu.

Sampai tiba waktunya putih abu-abu usai dan kita memulai hidup yang sebenarnya. Sedikit lagi aku rasa adalah waktu yang tepat. Aku rasa tiga tahun sudah cukup bagimu untuk berjuang sendiri dengan kerasnya penolakanku. Namun entah diterpa angin apa, semua berbalik, kita malah menjadi asing dan tidak saling menyapa. Mungkin kau sudah lelah dan menganggap sekeras apapun usahamu akan sia-sia. Maafkan aku tuan yang membuatmu begitu kelelahan dan ragu akan kepastian masa depan. Namun dengan penolakanku yang begitu keras sebelumnya dan aku tau kau pasti terluka, hingga aku hanya bisa membiarkanmu pergi begitu saja seperti kita tidak pernah berkawan. Sepi memang setelah kepergiamu, tapi bisa apa aku. Aku tidak bisa mengikuti egoku dan menghubungimu untuk mengatakan semuanya. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa tanpa sengaja aku juga memiliki rasa yang sama. Aku terlalu takut untuk memberimu harapan yang akan menyulitkanmu. Sampai akhirnya aku mulai berdamai dan berteman dengan kesunyian.

Dua tahun sudah sejak saat itu aku berkawan dengan kesunyian, tanpa mengetahui informasi apapun tentangmu. Sampai pada saat tanpa sengaja aku melihatmu dan kita bertegursapa lagi. Kita memulai semuanya dari awal seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Menutup lembar lama dan mulai melukis dikanvas baru. Kesungguhanmu masih terlihat dengan jelas, akupun mulai memberi sinyal. Namun tiba-tiba saja kau berkata sudah ada dara lain yang mengisi harimu. Dengan panjang kau bercerita betapa baiknya daramu itu. Aku harus terlihat senang bukan didepanmu. Layaknya seorang kawan yang mengetahui karibnya sudah bertemu dengan apa yang ia cari selama ini. Setidaknya kau sudah bahagia tuan. Perkara hatiku sudahlah itu urusanku sendiri, aku akan merawatnya dengan lebih baik lagi, agar tidak hancur. Aku turut senang melihat kebahagianmu. Kita masih akan tetap berkawan bukan setelah ini, lebih baik seperti ini. Jadi cukup aku saja yang mengetahui isi hatiku selama ini, biar tetap tersimpan tanpa kau tau dan aku bahagia bisa berjumpa dengan seseorang yang memiliki rasa sayang yang begitu hebat. Semoga selalu berbahagia dengan pilihanmu dan semoga kau bisa mencapai semua mimpi-mimpimu dan terimakasih sudah pernah menyayangiku dengan begitu hebat. Sampai berjumpa lagi di masa depan sebagi kawan tentunya.

Komentar