-->

Sejarah Indonesia 'Sebelum Proklamasi' - Drs. Inu Kencana Syafiie

Tidak ada komentar

Sistem Pemerintahan Indonesia (MKDU).
Sistem Pemerintahan Indonesia (MKDU).
Indonesia jika dilihat secara geografis memiliki ratusan pulau-pulau di dalamnya yang dihuni oleh penduduk yang berbeda-beda pula. Bahasanya bergama, budayanya beragam, sukunya beragam, dan agamanya beragam. Selain penduduk, terdapat pula keberagaman makhluk hidupnya. Ada pulau komodo, dimana komodo tinggal disana, bahkan hal tersebut termasuk dalam 7 keajaiban dunia. Ada burung cendrawasih, ada gajah, harimau, badak, bunga anggrek, bunga bangkai, dan lain sebagainya.
.
Selain itu Indonesia juga dilewati oleh garis khatulistiwa, sehingga Indonesia memiliki dua musim yang menguntungkan untuk bertani, berkebun, dan bercocok tanam. Indonesia juga diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Dan juga diapit oleh dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Dan untuk tepatnya lokasi Indonesia adalah berikut:
  • Dari 94 derajat 15' BT sampai dengan 141 derajat 05' BT.
  • Dari 6 derajat 08' LU sampai dengan 11 derajat 15' LS.
Dalam sejarah sebelumnya, Indonesia memiliki 3 kerajaan besar, yaitu Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, dan Kerajaan Mataram Islam. Ketiga kerajaan ini telah memberikan kebudayaan yang mengakar hingga saat ini. Walaupun begitu, Indonesia memiliki banyak sekali kerajaan-kerajaan lain yang juga berkontribusi dalam memberikan sumbangan budayanya kepada Indonesia.
.
Bendera Indonesia adalah merah putih, merah diatas dan putih dibawahnya. Sebagaimana didalam lagu Gombloh, merah berartikan darah yang memiliki makna keberanian. Sedangkan putih digambarkan seperti tulang yang bermakna kesucian. Selain itu lagu kebangsaan Indonesia adalah Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman jauh sebelum kemerdekaan. Lagu tersebut pernah dikumandangkan pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dengan biola beliau.
.
Lambang Indonesia adalah Garuda dengan muka yang menghadap ke kanan. Maksud dari kanan adalah hal yang baik, seperti memakan menggunakan tangan kanan. Garuda itu mengenakan kalung perisai, dimana di dalam perisai tersebut memiliki lima lambang di dalamnya, yaitu falsafah Pancasila. Selain itu di bawah kakinya, sang Garuda mencengkram sebuah pita, dimana pada pita tersebut bertuliskan 'Bhineka Tunggal Ika' yang berarti "Biar pun bervariasi namun tetap satu hati jua".
.
Bahasa yang digunakan juga bahasa Indonesia, bukan melayu, batak, papua, jawa, dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Yang dihadiri para pemuda dari berbagai daerah, suku, agama, kota, dan bahasa, bersepakat menyatakan sumpah mereka:
  1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
  2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  3. Kami poetra dan poetri Indoensia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Dari sumpah itu nampak bahwa segala sesuatu yang berbeda-beda telah disatukan, termasuk bahasa. Karena memang bahasa di Indonesia memiliki bahasa yang beragam, dan mereka telah sepakat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang saat ini telah digunakan untuk bahasa utama negara Republik Indonesia. Mereka telah melangkah maju, mereka dengan kesadarannya telah melepaskan ego sentris kedaerahan, bahasa daerah, bahasa ibu mereka masing-masing.
.
Bahasa Indonesia mengalami beberapa perubahan dan pergantian ejaan setiap perkembangannya. Artinya bahasa Indonesia ini berkembang secara mandiri. Prof. Jus Badudu, seorang pakar bahasa Indonesia, mengatakan bahwa walaupun bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu, namun secara kenyataannya bahasa Indonesia ini diisi oleh bahasa-bahasa daerah seluruh Indonesia yang secara perlahan menjadi baku. Tidak sedikit juga bahasa Indonesia juga diisi oleh bahasa Asing. Jika digambarkan akan seperti dibawah ini:
Perkembangan bahasa.
Perkembangan bahasa.
Bukankah ini sebuah kebanggan untuk bangsa Indonesia, dimana memiliki beberapa ratus pulau dengan suku dan budaya yang sangat banyak. Mereka melepaskan keegoisannya untuk masa depan bangsa Indonesia, bangsa yang berhasil membuat dan merumuskan bahasa utamanya sendiri. Tidak seperti India contohnya, yang tiap-tiap suku mengusulkan menggunakan bahasanya. Keegoisan mereka masih tetap ada walaupun mereka sudah merdeka, tetapi tidak memiliki bahasa persatuan hingga buku ini (karya: Inu Kencana Syafiie - Sistem Pemerintahan Indonesia) ditulis (1994 - dicetak dan disebar). Maka ini beban bagi anak muda bangsa Indonesia untuk menjaganya. Kenapa beban? Karena bangsa ini kian rapuh dan terpengaruh oleh embel-embel keegoisan yang ingin menang sendiri.
.

Pasca-Kemerdekaan Melawan Penjajah

  • Sejarah mencatat bahwa yang pertama kali menentang penjajahan dengan melakukan pergerakkan bersama masyarakatnya (baik berperang maupun jalur diplomatis) adalah Sultan Agung Anyorokusumo (1591-1645). Kemudian Untung Surapati dan para sultan, seperti Sultan Hassanuddin (1631-1670), Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683), Sultan Mahmud Badarudin II (1767-1852), Sultan Thoha Syaifuddin (1816-1904).
  • Setelah itu para ulama juga melakukan perlawanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol (1772-1864), Pangeran Diponegoro (1785-1855) dengan sahabatnya Kiai Maja dan Sentot Alibasya, Pangeran Antasari (1797-1862). Selain itu di Maluku ada pejuang yang bernama Kapitan Pattimura (1783-1817) dan Martha Khristina Tiahahu (1800-1818). Dan juga pemberontakkan Trunjoyo dari Madura.
  • Di Aceh tidak seluruh bagiannya dapat dikuasai oleh bangsa Belanda, karena di Aceh ini memiliki cukup banyak pejuang yang melawannya, seperti Teuku Umar (1854-1899), Teuku Cik Ditiro (1836-1891), Cut Nyak Dien (1850-1908), Cut Nyak Meutia (1870-1910), dan Panglima Polim. Selain itu ada juga Cut Meriska dan Cut Tari, ngoahahaha. Sedangkan di Pulau Jawa terjadi perlawanan yang dipimpin oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VI (1807-1849). Raja Sisingamanganraja (1849-1907) juga memimpin perlawanan kepada bangsa Belanda.
Dari sekian perlawanan pada tiap-tiap daerah tersebut, masyarakat sadar bahwa perlawanan harus dilakukan secara bersama-sama agar kekuatan menjadi lebih besar. Maka lahirlah organisasi-organisasi di Indonesia seperti Budi Utomo (1908), Syarikat Islam (1911), Partai Nasional Indonesia (1927), dan yang paling sakral adalah Sumpah Pemuda (1928). Tahun-tahun berikutnya pergerakkan mulai bersifat nasional.
.
Syarikat Islam (SI) adalah organisasi yang menonjol saat itu. Awalnya SI adalah Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi. Baru pada tahun 1912 SDI berubah menjadi SI dengan pemimpinnya yang baru yaitu H. O. S Tjokroaminoto (1883-1934), dan dengan orientasinya yang bermula dari komersial berubah mengarah politik. Hal inilah yang menjadi perbedaan antara SI dengan Muhammadiyah, secara Muhammadiyah berorientasi kepada sosio keagamaan.
.
Marxisme, atau lebih dikenal dengan paham komunis, diperkenalkan oleh orang Belanda yang bernama H. J. F. Sneevliet. Pada tahun 1914 kelompok Marxis mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) atau dalam bahasa Indonesianya adalah Organisasi Sosial Demokrat Hindia Belanda. Dari organisasi tersebutlah, gagasan dan slogan Marxis diekspor ke dalam tubuh SI. Tahun 1917, ketika Rusia meraih kemenangan besar, ISDV menjadi bernafsu untuk menyebarkan paham Marxis. Kemenangan Revolusi Oktober di Rusia telah memotivasi ISDV hingga pada tanggal 23 Mei 1920 mereka mengganti nama ISDV menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan SI cabang Semarang sebagai pusat. Samaun adalah ketuanya yang pertama.
.
Tanggal 8 Desember 1941, terjadi Perang Pasifik sebagai rangakain Perang Dunia Kedua. Jepang, Jerman, Italia menggempur lawan-lawannya. Jepang di Asia, sedangkan dua temannya di Eropa. Pada tanggal 9 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut kepada Jepang. Hal inilah membuat Indonesia harus dijajah Jepang selama 3,5 tahun dengan rodi-nya.
.
Di Manchuria, Jepang diserbu oleh Rusia. Begitu juga Amerika Serikat yang membombardir Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945). Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Hal inilah para pemuda Indonesia yang sedang nafsu-nafsunya untuk memproklamirkan kemerdekaan. Akan tetapi, mereka membutuhkan pimpinan sesepuh mereka. Maka terjadilah peristiwa Rengasdengklok, dimana Ir. Soerkarno dan Moh. Hatta diculik ke Rengasdengklok untuk merencanakan peristiwa yang telah kita kenal dengan "Proklamasi".
.
Daftar Pustaka:
  • Drs. Inu Kencana Syafiie. Sistem Pemerintahan Indonesia (MKDU). Penerbit Rineka Cipta Jakarta Januari 1994

Komentar